Le Petit Prince : Pangeran Cilik / The Little Prince by Antoine de Saint-Exupéry | Book Review
The Little Prince looks like a children’s story, it’s short, has cute illustrations, and features a kid who lives on an asteroid. But about three chapters in, you realize that this is actually about everything that matters. This story is about a pilot crashes in the Sahara, and just when he thinks he’s alone, this mysterious boy appears, a prince, from space. And as they talk, the prince starts telling stories about his journey through the universe, where he met different kind of people whom sound familiar to us. Beneath the surface, this is a story about love that isn’t perfect, friendships that require patience, and how adulthood quietly grinds away our wonder if we let it. All in fewer pages than a twitter thread, with more wisdom than most 500-page novels.
(The Little Prince kelihatan seperti buku anak-anak, bukunya tipis, ada ilustrasi lucu, dan tokohnya anak kecil yang tinggal di asteroid. Tapi setelah beberapa bab, kita bakal sadar kalau cerita ini sebenarnya tentang hal-hal paling penting dalam hidup. Ceritanya tentang seorang pilot yang pesawatnya jatuh di Gurun Sahara. Dia kira dia sendirian, tapi tiba-tiba muncul anak kecil misterius, seorang pangeran, dari luar angkasa. Mereka mulai mengobrol, dan si pangeran cerita tentang perjalanannya ke berbagai planet, di mana dia ketemu orang-orang yang, kalau dipikir-pikir, sangat mirip dengan orang-orang yang kita kenal di dunia nyata. Di balik ceritanya yang simpel, buku ini sebenarnya tentang cinta yang tidak ak selalu sempurna, persahabatan yang butuh kesabaran, dan bagaimana dunia orang dewasa pelan-pelan bisa mengikis rasa takjub dan keingintahuan kita kalau kita tidak hati-hati. Semua ini diceritakan dalam jumlah halaman yang lebih sedikit dari thread Twitter, tapi isinya lebih dalam dari kebanyakan novel sepanjang 500 halaman.)
BOOK INFORMATION
Title : Le Petit Prince: Pangeran Cilik
Author : Antoine de Saint-Exupéry
Translator : Henri Chambert-Loir
Language : Indonesian
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Released : November 2, 2015
Read : October 6 - 12, 2021
Length : 120 pages
GR Rating : 4.32
My Rating : 4.50
BOOK REVIEW
At first glance, The Little Prince feels like a deceptively simple children’s fable with a stranded pilot in Sahara and a mysterious boy from space who travels across the universe. But here’s what’s brilliant about it: just when you’re lulled by the fairytale surface, this book inserts these quiet revelations to your brain that resurface when you least expect them. What begins as a desert survival story becomes a quiet meditation on how we love, how we grow up, and how we lose sight of what matters.
The relationship between the prince and his rose? Oh, this is where the book goes from charming to achingly real. He falls in love with her beauty and rarity because she’s the only rose on his tiny planet, after all. But she’s also equal parts fragile and frustrating, vain, and plays these emotional games. (Ever loved someone who keeps you guessing? Yeah. Same.) At first, the prince takes her personally like her sarcasm, her demands for a glass dome, her "I’m totally fine without you" act when she’s clearly not. So he leaves.
Their story shows how love, when poorly communicated, becomes a minefield of regret. The rose hides her vulnerability behind arrogance by saying "I don't need your glass dome!" while the prince takes her defenses at face value. Sound familiar? It's that classic relationship dance: one person's too scared to say "I'm afraid of losing you," so they build walls instead. The other misreads those walls as "I don't care." By the time the rose finally drops her act and says "I love you," it's too late because the prince has already left.
Now, let’s be real. If we judged their relationship by modern standards, the rose’s mind games and the prince’s passive exit would have been categorized as toxic. And that's not wrong, because this isn’t #RelationshipGoals. But that’s precisely what makes their dynamic so brilliant. The author isn’t serving us a fairytale romance, he’s showing love’s growing pains. The rose? She’s the embodiment of how fear makes us push people away. The prince? Proof that immature love often mistakes drama for true connection. Their tragedy isn’t meant to be aspirational because it’s the before picture.
Then, only after traveling across galaxies does he realize that this isn't about love failing. It's about love learning. That moment when he admits, "I was too young to know how to love her"? Brutal. Because isn’t that all of us at some point? And the pilot mirrors the prince's realization! Stranded in life-threatening conditions, what stays with him isn’t the struggle for survival, but it’s the friendship with this strange boy who teaches him to see again.
Speaking of seeing, the prince’s encounters with various adults read like a dark comedy sketch about modern society. There’s the businessman obsessively counting stars he’ll never even enjoy, it’s laughable until we realize we do the same thing. How different is that from our hustle culture? For how we chase achievements without experiencing life. Then, the vain man begging for applause in an empty echo chamber might as well be a TikTok influencer. And then there’s the fox, who drops what might be literature’s most devastatingly simple truth bomb: "What is essential is invisible to the eye." In other words, the things that actually matter (love, relationship, wonder) can’t be measured, owned, or Instagrammed.
Which brings me to this book’s sharpest critique: how adulthood murders our sense of wonder. The pilot’s creative and imaginative childhood drawings were dismissed by adults who only valued "serious" geography lessons. I felt personally called out by that part. We’ve all been taught to replace curiosity with productivity, to value answers over questions, to trade "Why?" for "How much?". But the prince, this eternal child, notices details most of us overlook, he cares about sunsets, about the single flower on his planet, about asking "why" until it makes adults uncomfortable. Reading this as an adult feels like being handed a glasses for your soul, suddenly you see how much you’ve unlearned in the name of "growing-up."
Here’s why this 1943 novella still hits hard in 2023: in our age of optimized lives and algorithmic loneliness, this book does what great books do by not telling you something, but making you feel it. It’s not about rejecting adulthood, but about remembering what we shouldn’t have left behind and refusing to let practicality erase our humanity. Every time I reread it, I understand something new, not because this book changed, but because I have. And maybe that’s the proof of its genius, like the prince’s rose, its meaning grows richer the more time you spend with it.
(Sekilas, The Little Prince tampak seperti dongeng anak-anak yang simpel tentang seorang pilot yang terdampar di Sahara dan seorang anak kecil misterius dari luar angkasa yang sudah keliling semesta. Tapi yang membuat buku ini jenius adalah, saat kita mulai nyaman dengan cerita dongengnya, tiba-tiba ada momen-momen yang semacam terselip di otak kita dan muncul lagi di saat yang nggak kita sangka. Dari cerita tentang bertahan hidup di gurun, tiba-tiba kita dibawa pada renungan soal cinta, kedewasaan, dan bagaimana kita sering kehilangan arah dalam hidup.
Hubungan si pangeran sama mawar? Nah, di sini buku ini berubah dari sekadar manis jadi nyesek. Awalnya, dia jatuh cinta karena mawar itu cantik dan satu-satunya di planet kecilnya. Tapi si mawar juga rapuh, manja, suka ngambek, dan main tarik-ulur. (Pernah suka sama orang yang bikin bingung? Sama) Si pangeran awalnya menanggapi semuanya secara harfiah, sarkasmenya, permintaan untuk kaca pelindung, sampai akting "aku baik-baik aja tanpa kamu" padahal jelas-jelas nggak. Karena bingung dan capek, dia akhirnya pergi.
Kisah mereka menunjukkan bagimana cinta yang tidak dikomunikasikan dengan baik bisa jadi penuh penyesalan. Mawarnya pakai kesombongan buat menutupi ketakutannya, kayak "Aku nggak butuh kaca pelindung!" padahal aslinya dia butuh. Si pangeran, bukannya mengerti, malah menganggapnya sebagai "Oh, dia nggak butuh aku." Kedengeran familiar? Ini adalah pola klasik dalam hubungan di mana satu orang takut kehilangan, tapi malah membangun tembok yang tinggi. Yang satu lagi melihat tembok itu sebagai tanda "Aku nggak peduli." Saat si mawar akhirnya jujur bilang "Aku cinta kamu," semuanya sudah terlambat. Si pangeran sudah pergi.
Kalau hubungan mereka kita lihat pakai standar zaman sekarang, jelas bakal masuk kategori toxic. Mawarnya suka main-main, si pangeran kabur tanpa komunikasi, bukan #RelationshipGoals banget. Tapi justru di situlah kejeniusan cerita ini. Penulisnya tidak memberi kita kisah cinta yang sempurna, tapi menunjukkan bagaimana cinta itu berkembang. Mawar itu perwujudan bagaimana ketakutan bisa membuat kita mengusir orang yang kita sayang. Pangeran? Bukti kalau cinta yang immature sering mengira drama itu sebagai hubungan yang sebenarnya. Tragedi mereka bukan sesuatu yang harus ditiru, tapi gambaran before, sebelum kita belajar cara mencintai dengan benar.
Baru setelah menjelajahi berbagai galaksi, si pangeran sadar bahwa ini bukan soal cinta yang gagal, tapi soal belajar dari cinta. Dan momen ketika dia akhirnya mengakui, "Aku terlalu muda untuk tahu bagaimana mencintainya," itu… brutal. Karena bukankah kita semua pernah ada di titik itu? Dan yang bikin makin ngena, si pilot juga mengalami realisasi yang sama! Dia terdampar dalam kondisi yang mengancam nyawa, tapi yang paling membekas di pikirannya bukan usahanya untuk bertahan hidup, melainkan pertemanannya dengan bocah aneh yang mengajarkan dia untuk melihat lagi.
Ngomong-ngomong soal melihat, perjalanan si pangeran bertemu orang-orang dewasa terasa seperti menonton sketsa komedi gelap tentang masyarakat modern. Ada si pebisnis yang sibuk menghitung bintang yang bahkan tidak bisa dia nikmati, keliatan konyol, sampai kita sadar kalau kita juga begitu. Bedanya apa sama hustle culture kita sekarang? Hanya mengejar pencapaian tanpa sempat benar-benar hidup. Terus ada si pria narsis yang haus tepuk tangan di ruangan kosong, kayak influencer TikTok yang sibuk mengejar validasi. Dan jangan lupa si rubah, yang menjatuhkan salah satu truth bomb paling nyesek dalam sejarah sastra: "Hal yang paling penting tidak bisa dilihat dengan mata." Dengan kata lain, hal-hal yang benar-benar berarti dalam hidup (cinta, hubungan, rasa takjub) tidak bisa diukur, dimiliki, atau dipamerkan di Instagram.
Yang menurutku jadi tamparan paling keras dari buku ini adalah bagaimana kedewasaan bisa membunuh rasa kagum kita terhadap dunia. Waktu kecil, si pilot suka gambar-gambar kreatif, tapi orang dewasa di sekitarnya malah menganggap itu tidak penting, dan lebih memilih mengajarkan geografi yang "serius." Jujur, aku merasa disindir banget pas baca bagian itu. Karena bukannya kita juga diajari untuk lebih peduli dengan produktivitas daripada rasa penasaran? Untuk lebih memilih jawaban pasti daripada pertanyaan? Untuk lebih sering bertanya "seberapa untung?" daripada "kenapa?" Tapi si pangeran, dengan mata anak-anaknya, justru peka pada hal-hal yang kita sering lewatkan. Dia peduli pada matahari terbenam, pada satu bunga di planetnya, pada pertanyaan-pertanyaan yang membuat orang dewasa risih. Membaca buku ini saat sudah dewasa rasanya seperti diberi kacamata untuk melihat jiwa kita, tiba-tiba kita sadar seberapa banyak hal berharga yang tanpa sadar sudah kita lupakan atas nama "tumbuh dewasa."
Dan inilah kenapa novel pendek dari tahun 1943 ini masih ngena banget di 2023. Di zaman di mana hidup kita dioptimalisasi habis-habisan dan kesepian jadi semakin algoritmik, buku ini melakukan apa yang buku-buku bagus selalu lakukan: bukan cuma memberi tahu sesuatu, tapi membuat kita merasakan sesuatu. Ini bukan soal menolak kedewasaan, tapi soal mengingat hal-hal yang seharusnya tidak kita tinggalkan, dan tidak membiarkan pragmatisme membuat kita melupakan kemanusiaan kita sendiri. Setiap kali kita membaca ulang buku ini, kita akan menemukan makna baru, bukan karena bukunya berubah, tapi karena kita yang berubah. Dan mungkin itu bukti betapa jeniusnya buku ini. Seperti mawar si pangeran, maknanya makin kaya seiring waktu yang kita habiskan bersamanya.)
THE FAVORITES
1. What blows me away about this book is how its characters from 80 years ago still feel ripped from today’s headlines. That businessman counting stars he’ll never even look at? Textbook hustle culture. The vain man desperate for applause? Literally every influencer’s Instagram feed. And the lamplighter, mindlessly repeating his task, haven’t we all caught ourselves going through motions without asking why? It’s wild how these tiny vignettes expose universal human odd habits.
2. The genius of this book? It speaks to kids and adults without dumbing anything down. The language is clean and fairy-tale straightforward, but every chapter packs a quiet punch. Like those fables you loved as a child, except here, the lessons hit differently when you reread them at 25 (or 45).
3. Love. Loneliness. Growing up without losing yourself. This book tackles everything in under 100 pages. What’s crazy is how these ideas never feel dated, whether you’re 15 and experiencing first heartbreak or 30 and questioning your life choices, this book meets you where you are. That’s why it keeps getting passed between generations like a secret handshake.
4. The chef kiss level metaphors. No pretentious symbolism here, every element earns its meaning. The rose isn’t just "love," it’s complicated love (read: beautiful but kinda toxic). The fox? Friendship as an active verb, not just vibes. Even the stars become this gorgeous metaphor for how people stay with us after they’re gone. It’s the rare book where the metaphors feel lived-in, not lecture-y.
5. It's a love letter to curiosity. Reading this feels like rediscovering childhood wonder, that phase where you asked "why?" about clouds, cried over sunsets, and believed a single flower could matter more than money. The prince’s wide-eyed perspective is low-key revolutionary in our jaded world. It’s not naive, it’s brave. And by the last page, you’ll catch yourself seeing your own life a little differently.
(1. Yang bikin aku terpesona dari buku ini adalah bagaimana karakter-karakternya, yang ditulis 80 tahun lalu, masih terasa relate banget sama dunia sekarang. Si pebisnis yang sibuk menghitung bintang tapi tidak pernah menikmatinya? Textbook hustle culture. Si pria narsis yang haus tepuk tangan? Kayak scrolling Instagram penuh influencer yang cari validasi. Dan si penyala lampu, yang terus kerja tanpa mikir kenapa? Bukankah kita semua pernah terjebak rutinitas tanpa sadar? Gila sih, bagaimana potongan-potongan cerita kecil ini bisa meng-expose kebiasaan absurd manusia yang ternyata universal.
2. Kecerdasan buku ini? Bisa berbicara pada anak kecil dan orang dewasa tanpa merasa dibuat-buat. Bahasanya bersih, lugas seperti dongeng, tapi setiap bab punya pukulan tersendiri. Semacam fabel yang dulu kita suka saat kecil, tapi di sini, pelajarannya terasa beda saat dibaca ulang di usia 25 (atau 45).
3. Cinta. Kesepian. Tumbuh dewasa tanpa kehilangan diri sendiri. Semua ini dirangkum dalam kurang dari 100 halaman. Dan yang gokil, ide-idenya nggak pernah basi. Mau pembacanya 15 tahun dan baru merasakan patah hati pertamanya, atau 30 tahun dan lagi mempertanyakan keputusan hidup, buku ini selalu pas di momen kita yang sekarang.
4. Metaforanya? Ciamik banget. Tidak ada simbolisme yang sok njelimet di sini, setiap elemen punya makna yang terasa organik. Mawar bukan sekadar cinta, tapi cinta yang rumit. Si rubah? Persahabatan yang butuh usaha, bukan cuma sekadar vibes. Bahkan bintang pun berubah jadi metafora indah tentang bagaimana orang yang kita sayang tetap ada, bahkan setelah mereka pergi. Ini salah satu dari sedikit buku di mana metaforanya tidak terasa seperti kuliah filsafat, tapi lebih ke pengalaman hidup yang kita semua pahami.
5. Buku ini adalah surat cinta untuk rasa ingin tahu. Membaca buku ini rasanya seperti balik ke masa kecil, ke masa di mana kita masih sering bertanya "kenapa?" tentang awan, menangis saat melihat matahari terbenam, dan percaya kalau satu bunga bisa lebih berharga daripada uang. Perspektif polos si pangeran tuh sebenarnya revolusioner di dunia kita yang sudah penuh sinisme. Bukan naif, tapi berani. Dan saat kita sampai di halaman terakhir, kita bakal sadar, cara kita melihat dunia sudah berubah, walau cuma sedikit.)
CONCLUSION
The Little Prince might look like a simple children’s book at first glance, but it’s one of the most layered stories ever written about what it means to be human. Yes, there’s a pilot and a space-traveling boy, but this isn’t really their story, because it’s ours. What makes it so special is how it handles big ideas with such lightness. This book is about preserving what matters: keeping your sense of wonder, valuing people over possessions, and remembering that the most important things in life, like love, friendship, meaning, aren’t things you can see or measure. It does all this without ever feeling preachy. The language stays simple enough for a child to follow, but the wisdom resonates deeper the older you get. Every time you reread it whether at 15, 25, or someday at 85, it’s a different book because you're different, and please pay attention because this isn’t just a story you read, but it’s one that reads you right back.
(The Little Prince mungkin keliatan seperti buku anak-anak biasa kalau dilihat sekilas, tapi sebenarnya ini salah satu cerita paling deep yang pernah ditulis tentang apa artinya jadi manusia. Iya, ada pilot terdampak dan anak kecil yang jalan-jalan ke luar angkasa, tapi ini sebenarnya bukan cuma cerita mereka, karena ini cerita kita semua. Yang membuat buku ini istimewa adalah bagaimana dia mrmbahas hal-hal besar dengan cara yang ringan banget. Buku ini berbicara tentang menjaga hal-hal yang penting: tetap punya rasa ingin tahu, lebih menghargai orang daripada benda, dan ingat kalau hal-hal terpenting dalam hidup seperti cinta, persahabatan, makna, itu bukan sesuatu yang bisa kita lihat atau ukur. Dan yang keren, buku ini menyampaikan semua itu tanpa terasa menggurui. Bahasanya cukup simpel untuk dipahami anak kecil, tapi maknanya semakin dalam seiring bertambahnya umur. Setiap kali kita baca ulang, entah di usia 15, 25, atau nanti pas 85, rasanya seperti baca buku yang beda. Karena kita yang sudah berbeda. Jadi tolong perhatikan baik-baik, karena ini bukan cuma cerita yang kita baca, tapi cerita yang juga membaca kita.)
0 Comments
don't use this comment form, use the embedded disqus comment section. No spam!
Note: only a member of this blog may post a comment.