A Wrinkle in Time by Madeleine L'Engle | Book Review

 


A Wrinkle in Time by Madeleine L’Engle is a mix of science fiction, fantasy, and adventure with some deep, complex themes. This story follows Meg Murry, a stubborn and insecure girl who goes on a journey across the universe to find her missing father. She’s joined by her little brother, Charles Wallace, and her friend, Calvin O’Keefe. With the help of three mysterious celestial beings, Mrs. Who, Mrs. Whatsit, and Mrs. Which, they travel through space and different dimensions. Along the way, they face a dark and powerful force called IT, which threatens to take over everything.

(A Wrinkle in Time oleh Madeleine L’Engle adalah perpaduan antara fiksi ilmiah, fantasi, dan petualangan dengan tema-tema yang cukup dalam dan kompleks. Ceritanya tentang Meg Murry, seorang gadis yang keras kepala dan kurang percaya diri, yang memulai perjalanan melintasi alam semesta untuk mencari ayahnya yang hilang. Dia tidak sendirian, adiknya, Charles Wallace, dan temannya, Calvin O’Keefe, ikut dalam petualangan ini. Mereka dibantu oleh tiga makhluk misterius, Mrs. Who, Mrs. Whatsit, dan Mrs. Which, yang membawa mereka menjelajahi ruang dan dimensi lain. Tapi perjalanan mereka tidak mudah, karena mereka harus menghadapi kekuatan gelap bernama IT yang berusaha menguasai segalanya.)


BOOK INFORMATION

Title                       : A Wrinkle in Time - Kerutan dalam Waktu

Author                  : Madeleine L'Engle

Translator            : Maria Masniari Lubis

Length                   : 267 Pages

Publisher              : Atria

Released                : September 2010

Read                       : August 3-8, 2022

GR Rating              : 3.99

My Rating              : 2.50


BOOK REVIEW

Madeleine L’Engle’s A Wrinkle in Time is a mix of science fiction, fantasy, and deep philosophical ideas. It dives into themes like the battle between good and evil, the importance of knowledge, and the struggle to be yourself in a world that pressures you to conform. This story follows Meg Murry, a girl who feels awkward and out of place, as she travels through space to rescue her father. Along the way, she learns that intelligence, love, and courage are her most powerful weapons against fear and control.  

One of the things I love most about this book is its message about independent thinking. This book makes it clear that blindly following authority or going along with the crowd just to fit in is dangerous. In today’s world, where misinformation spreads so easily and people are often pressured to agree with popular opinions, this lesson feels more relevant than ever. This book encourages us to ask questions, seek knowledge, and not just accept things at face value. That’s such an important idea, especially for young readers figuring out their own beliefs and opinions.  

The book also explores the importance of embracing who you are. At the beginning, Meg hates that she doesn’t fit in, she struggles at school, gets into trouble, and just wishes she could be like everyone else. Honestly, who hasn’t felt that way at some point? But then she visits Camazotz, a planet where everything and everyone is the same, and she realizes how horrifying it would be if individuality disappeared completely. Through this, this book makes a strong point that being different isn’t a weakness, because it’s what makes us special. I love how the book even name-drops real-life geniuses like Einstein and da Vinci as proof that thinking differently is what changes the world.  

I also really appreciate how this book portrays Meg’s struggles. She’s impatient, gets angry easily, and doesn’t always know how to handle her emotions. But instead of being a "bad kid," she’s just dealing with the pain of her missing father and feeling like she doesn’t belong. This was especially memorable because it’s a reminder that kids who misbehave aren’t always just troublemakers, they might be carrying emotional burdens they don’t know how to express. I wish more parents, teachers, and even friends would understand this instead of immediately labeling someone as "difficult" or "bad." Meg’s story shows how important it is to support young people instead of judging them.

One of the most interesting ideas in this book is how words can be limiting, especially when it comes to emotions like love. Meg visits planets where creatures communicate through music, movement, or even direct thoughts instead of words. Mrs. Who struggles to put her own thoughts into words, so she quotes famous lines instead. And Aunt Beast tells Meg that some emotions are too deep to be explained with words. This left a strong impression on me, especially when Meg saves Charles Wallace not by arguing or trying to explain things, but by showing love in a way that words couldn’t capture. It’s a powerful reminder that sometimes, actions and emotions speak louder than anything we could ever say.  

I also love how Meg isn’t your typical strong hero. She’s impatient, insecure, and constantly doubting herself. She makes mistakes, gets frustrated, and doesn’t always know what to do, but that’s what makes her so relatable. Instead of being some fearless, perfect protagonist, she grows into her strength over time. She learns to trust herself, accept both her flaws and her abilities, and find courage even when she’s terrified. That, to me, is what real bravery looks like, not the absence of fear, but pushing forward even when you are afraid. I think a lot of people, especially younger readers, can see themselves in Meg. We’ve all had moments of insecurity or fear, but Meg’s journey shows that even when we feel unprepared or not good enough, we’re still capable of doing something meaningful.  

Another thing I found really interesting is how this book blends science with spirituality. It doesn’t try to give clear answers about the universe but instead encourages curiosity and open-mindedness. Whether it’s through science, faith, or something else, this story suggests that belief in the unknown requires trust and a willingness to explore. This feels relevant today, since we constantly face uncertainty whether it’s about the future, new discoveries, or even our own personal struggles. This book reminds us that just because we don’t have all the answers right now doesn’t mean we should stop questioning, learning, and searching for the truth.

(A Wrinkle in Time oleh Madeleine L’Engle adalah perpaduan fiksi ilmiah, fantasi, dan ide-ide filosofis yang cukup dalam. Buku ini membahas tema tentang pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, pentingnya pengetahuan, dan susahnya untuk tetap jadi diri sendiri di dunia yang sering memaksa kita untuk menyeragamkan diri. Ceritanya mengikuti Meg Murry, seorang gadis yang merasa canggung dan tidak cocok dengan lingkungannya. Dia melakukan perjalanan melintasi ruang angkasa demi menyelamatkan ayahnya, dan di sepanjang jalan, dia belajar bahwa kecerdasan, cinta, dan keberanian adalah senjata terkuat untuk melawan ketakutan dan kendali.  

Salah satu hal yang paling aku suka dari buku ini adalah pesannya tentang pemikiran bebas. Buku ini sangat jelas menunjukkan bahaya dari sekadar mengikuti otoritas atau ikut-ikutan hanya untuk bisa diterima dalam pergaulan. Di zaman sekarang, di mana misinformasi gampang sekali menyebar dan orang-orang sering merasa tertekan untuk mengikuti opini yang populer, pelajaran ini rasanya makin relevan. Buku ini mengajarkan kita untuk selalu bertanya, mencari tahu, dan tidak asal menerima sesuatu mentah-mentah. Menurutku, ini pesan yang sangat penting, terutama untuk pembaca muda yang sedang mencari jati diri dan membentuk cara berpikir mereka sendiri.  

Buku ini juga membahas betapa pentingnya menerima diri sendiri. Di awal cerita, Meg benci dirinya karena dia tidak bisa berbaur, dia kesulitan di sekolah, sering kena masalah, dan cuma ingin jadi seperti orang lain. Jujur, siapa sih yang nggak pernah merasa seperti iitu? Tapi ketika dia sampai di Camazotz, sebuah planet di mana semua orang dan segala sesuatunya seragam, dia sadar kalau dunia tanpa perbedaan itu justru mengerikan. Dari sini, buku ini memberikan pesan yang kuat bahwa menjadi berbeda itu bukan kelemahan, justru itulah yang membuat kita spesial. Aku juga suka bagaimana buku ini menyebut nama-nama jenius dunia seperti Einstein dan da Vinci untuk menunjukkan bahwa orang-orang yang berpikir berbeda lah yang akhirnya bisa mengubah dunia.  

Satu hal lain yang aku apresiasi adalah bagaimana buku ini menggambarkan kesulitan yang dialami Meg dengan emosinya. Dia gampang marah, kurang sabar, dan sering kesulitan mengendalikan perasaannya. Tapi bukannya digambarkan sebagai "anak nakal," dia sebenarnya cuma lagi berusaha menghadapi rasa sakit karena kehilangan ayahnya dan perasaan bahwa dia terasing dari lingkungannya. Ini menurutku berkesan banget, karena mengingatkan kita bahwa anak yang "bermasalah" itu tidak selalu berarti mereka bandel, bisa jadi mereka sedang membawa beban emosional yang mereka sendiri tidak tahu cara mengungkapkannya. Aku harap lebih banyak orang tua, guru, atau bahkan teman sebaya yang sadar akan hal ini, daripada langsung ngecap seseorang sebagai anak yang "menyusahkan" atau "bermasalah." Cerita Meg menunjukkan betapa pentingnya mendukung anak-anak dan remaja, bukan malah menghakimi mereka.

Salah satu ide paling menarik di buku ini adalah bagaimana kata-kata itu bisa jadi batasan, terutama untuk hal-hal yang emosional, seperti cinta. Meg sempat mengunjungi planet-planet di mana makhluk-makhluknya tidak pakai kata-kata untuk ngobrol, mereka berkomunikasi lewat musik, gerakan, atau bahkan langsung lewat pikiran. Terus ada Mrs. Who, yang sulit mengungkapkan pikirannya sendiri, jadi dia lebih sering mengutip kata-kata orang lain. Bahkan, Aunt Beast berkata kalau ada perasaan yang terlalu dalam buat dijelaskan dengan kata-kata. Ini berkesan banget buatku, terutama saat Meg akhirnya menyelamatkan Charles Wallace bukan dengan perdebatan atau penjelasan panjang lebar, tapi dengan menunjukkan cinta yang tidak bisa diungkapkan cuma lewat kata-kata. Ini semacam pengingat bahwa terkadang, tindakan dan perasaan kita bisa berbicara lebih kuat daripada semua kata yang bisa kita ucapkan.  

Aku juga suka banget bagaimana Meg bukan tipe pahlawan yang kuat dan sempurna sejak awal. Dia gampang kesal, tidak percaya diri, dan sering ragu sama dirinya sendiri. Dia membuat kesalahan, gampang frustrasi, dan sering tidak tahu harus berbuat apa. Tapi justru itu yang membuat dia terasa nyata dan relatable banget. Dia bukan karakter tanpa rasa takut atau yang selalu punya jawaban buat semua masalah, dia tumbuh dan belajar seiring waktu. Meg pelan-pelan belajar untuk percaya diri, menerima kelemahannya sekaligus kemampuannya, dan menemukan keberanian meskipun dia takut. Buatku, keberanian yang sesungguhnya itu bukan berarti tidak punya rasa takut sama sekali, tapi tetap maju walaupun kita takut. Aku rasa banyak orang, terutama pembaca yang lebih muda, bisa melihat diri mereka sendiri di Meg. Kita semua pernah merasa tidak cukup baik atau tidak siap, tapi perjalanan Meg menunjukkan kalau meskipun kita ragu atau takut, kita tetap bisa melakukan sesuatu yang berarti.  

Hal lain yang menurutku menarik dari buku ini adalah bagaimana sains dan spiritualitas digabung jadi satu. Bukunya tidak memberikan jawaban pasti tentang alam semesta, tapi lebih mendorong kita untuj terus penasaran dan berpikiran terbuka. Entah lewat sains, kepercayaan, atau hal lain, cerita ini menunjukkan kalau keyakinan pada hal yang tidak diketahui membutuhkan kepercayaan dan keberanian untuk mengeksplorasi lebih jauh. Ini juga relevan banget di dunia sekarang, karena kita terus-menerus menghadapi ketidakpastian entah tentang masa depan, penemuan-penemuan baru, atau bahkan kesulitan pribadi kita sendiri. Buku ini seperti mengingatkan kita kalau hanya karena kita belum punya semua jawaban sekarang, bukan berarti kita harus berhenti bertanya, belajar, dan mencari kebenaran.)


THE FAVORITES

■One of the things I enjoy about this book is how it blends science with magic and deeper spiritual ideas. It talks about space travel, time warping, and multiple dimensions while also exploring themes like faith, love, and the mysteries of the universe. I like how it makes you think beyond what’s normal or familiar, and encourages curiosity about the universe.

■I also love how this book isn’t just an adventure story, it actually challenges us to think about ideas like good versus evil, the dangers of blindly following others, and the power of knowledge. This book pushes the idea that independent thinking is essential and reminds us that questioning things is important, especially in a where misinformation spreads so easily.

■Another thing I love is how this story puts young characters at the center of everything. Meg and her little brother, Charles Wallace, don’t just wait for adults to save the day, they take action themselves. I love this because it sends a powerful message: kids and teens can be smart, strong, and capable of making a difference. Meg’s journey, in particular, is so inspiring because even someone who doesn’t feel like a hero at first can still rise to the challenge.

(■ Salah satu hal yang aku suka dari buku ini adalah bagaimana dia memadukan sains, keajaiban, dan ide-ide spiritual yang lebih dalam. Ada pembahasan tentang perjalanan antar ruang, time warp, dan dimensi lain, tapi di saat yang sama juga membahas soal kepercayaan, cinta, dan misteri alam semesta. Aku suka gimana buku ini membuat kita berpikir di luar hal-hal yang biasa atau familiar, dan mengajak kita untuk lebih penasaran dengan dunia di sekitar kita.

■ Terus, buku ini bukan cuma sekadar cerita petualangan, tapi juga mengajak kita untuk memikirkan hal-hal seperti pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, bahaya kalau kita asal ikut-ikutan tanpa berpikir kritis, dan bagaimana pengetahuan itu bisa jadi kekuatan. Buku ini benar-benar nge-push ide kalau berpikir secara bebas itu penting banget. Di dunia sekarang, di mana misinformasi gampang sekali menyebar, rasanya pesan ini makin relevan.

■ Hal lain yang aku suka adalah bagaimana cerita ini benar-benar menjadikan karakter-karakter anak-anak di pusatnya. Meg dan adiknya, Charles Wallace, tidak cuma duduk diam menunggu orang dewasa untuk menyelamatkan mereka, tapi mereka bertindak sendiri. Ini keren banget karena pesannya jelas: anak-anak dan remaja juga bisa jadi pintar, kuat, dan punya peran besar dalam mengubah sesuatu. Perjalanan Meg, khususnya, inspiratif banget. Dia awalnya tidak merasa seperti pahlawan, tapi tetap maju dan menghadapi tantangan. Ini menunjukkan kalau bahkan orang yang awalnya ragu pada dirinya sendiri tetap bisa bangkit dan melakukan hal yang besar.)


THE DRAWBACKS 

■ One thing that really frustrated me about this book is how it introduces fascinating scientific and philosophical ideas but doesn’t always explain them well. Meg asks a lot of questions about space, time, and dimensions, but instead of clear answers, she often gets vague or poetic responses from characters like Mrs. Who, Mrs. Whatsit, and Mrs. Which. The mystery might be intentional, but sometimes, not knowing adds to the wonder, but too often, it just left me feeling confused instead of intrigued. This book touches on mind-expanding concepts, but I wish they were explained in a way that made them feel more accessible rather than just abstract.

■I also had issues with the pacing. Some major events happen so quickly that they barely have time to sink in, while other scenes drag on longer than necessary. This book jumps between fast-paced action and slow, reflective moments in a way that sometimes felt jarring. Personally, I found it a little hard to stay fully engaged because I never knew if I was about to get an intense, dramatic scene or a long-winded conversation that slowed things down. 

■For a book about traveling through space and visiting different dimensions, I actually found the world-building surprisingly underwhelming. The planets Meg visits could have been so much more vivid and immersive, but instead, they often feel like vague concepts rather than real places. Camazotz is probably the most memorable, with its eerie sameness and unsettling atmosphere, but a little bit richer descriptions will make this one and some of other settings end up feeling less flat.

■Another thing I didn’t like was how Meg’s appearance was described. In the Indonesian edition, her messy hair, thick glasses, and braces are written as if they make her look bad or even scary. I didn’t like this because it plays into negative stereotypes about nerdy kids or people who are smart or people who come from academic families, that they can’t be seen as normal or attractive. Meg could look however she looks without it being framed as a bad thing, and she can be portrayed as feeling out of place without making her looks seem like part of the problem. Just because she struggles at school and doesn’t fit in socially doesn’t mean her appearance has to be tied to that in such a negative way.  

■I was also a bit annoyed by how Meg’s curiosity was sometimes dismissed. She wants answers, and she asks a lot of questions because she’s thirteen and trying to make sense of the world. For example, when she meets Calvin, she immediately asks her mom what she thinks of him, and she wants a quick opinion. Instead of giving her a real answer, her mom just tells her to be patient. I get that patience is important, but curiosity is totally normal and it's a good thing! Instead of brushing her off, her mom could have just been honest, maybe saying she didn’t know yet or that it takes time to understand people. It felt like Meg’s need for answers was seen as impatience rather than a natural desire to learn.

(■ Salah satu hal yang bikin frustrasi dari buku ini adalah bagaimana dia mengenalkan ide-ide ilmiah dan filosofis yang menarik banget, tapi sering kali tidak dijelaskan dengan jelas. Meg sering bertanya tentang ruang, waktu, dan dimensi, tapi bukannya dapat jawaban yang konkret, dia malah diberi jawaban yang samar atau puitis dari Mrs. Who, Mrs. Whatsit, dan Mrs. Which. Mungkin ini memang sengaja dibuat misterius, dan kadang-kadang, ketidaktahuan bisa membuat kita jadi lebih penasaran. Tapi buatku, terlalu sering tidak tahu malah membuat bingung daripada bikin penasaran. Buku ini sebenarnya menyentuh konsep-konsep yang bisa membuka pikiran, tapi aku harap penjelasannya dibuat lebih gampang dipahami, bukan hanya abstrak.  

■ Terus, aku juga agak bermasalah dengan tempo ceritanya. Beberapa kejadian penting terjadi terlalu cepat sampai tidak sempat benar-benar terasa efeknya, sementara adegan lain malah berlarut-larut tanpa alasan yang jelas. Perpindahan antara adegan penuh aksi ke momen reflektif yang panjang ini kadang terasa agak kurang mulus. Jujur, aku jadi agak susah untuk tetap fokus karena tidak pernah tahu apakah aku bakal dapat adegan yang seru dan dramatis, atau malah percakapan panjang yang bikin ritmenya melambat.  

■ Buat buku yang temanya perjalanan antar dimensi dan eksplorasi luar angkasa, aku justru merasa world-building-nya kurang greget. Planet-planet yang dikunjungi Meg bisa banget dibuat lebih hidup dan berkesan, tapi yang ada malah sering terasa seperti konsep abstrak daripada tempat yang nyata. Camazotz mungkin yang paling memorable dengan atmosfernya yang serba sama dan unsettling, tapi kalau deskripsinya lebih kaya, tempat ini (dan beberapa setting lain) pasti bakal terasa lebih hidup dan tidak datar.  

■ Hal lain yang bikin aku kurang sreg adalah cara Meg digambarkan, terutama soal penampilannya. Di edisi terjemahan Indonesia, rambut berantakan, kacamata tebal, dan behel Meg ditulis seolah-olah itu membuat dia kelihatan jelek atau bahkan seram. Aku kurang suka karena ini kesannya memperkuat stereotip negatif tentang anak nerdy atau orang yang pintar, rasanya mereka tidak bisa dianggap normal atau menarik. Meg bisa saja digambarkan dengan penampilan seperti itu tanpa harus dianggap buruk, dan dia bisa merasa tidak cocok dengan lingkungannya tanpa harus menjadikan penampilannya sebagai masalah utama. Hanya karena dia kesulitan di sekolah dan susah bergaul, bukan berarti penampilannya juga harus dikaitkan dengan hal itu secara negatif.  

■ Aku juga agak kesal karena rasa ingin tahu Meg kadang malah dianggap sepele. Dia banyak bermasalah dengan tempo ceritanya. Beberapa kejadian penting terjadi terlalu cepat sampai tidak sempat benar-benar terasa efeknya, sementara adegan lain malah berlarut-larut tanpa alasan yang jelas. Perpindahan antara adegan penuh aksi ke momen reflektif yang panjang ini kadang terasa agak kurang mulus. Jujur, aku jadi agak susah untuk tetap fokus karena tidak pernah tahu apakah aku bakal dapat adegan yang seru dan dramatis, atau malah percakapan panjang yang bikin ritmenya melambat.  

■ Buat buku yang temanya perjalanan antar dimensi dan eksplorasi luar angkasa, aku justru merasa world-building-nya kurang greget. Planet-planet yang dikunjungi Meg bisa banget dibuat lebih hidup dan berkesan, tapi yang ada malah sering terasa seperti konsep abstrak daripada tempat yang nyata. Camazotz mungkin yang paling memorable dengan atmosfernya yang serba sama dan unsettling, tapi kalau deskripsinya lebih kaya, tempat ini (dan beberapa setting lain) pasti bakal terasa lebih hidup dan tidak datar.  

■ Hal lain yang bikin aku kurang sreg adalah cara Meg digambarkan, terutama soal penampilannya. Di edisi terjemahan Indonesia, rambut berantakan, kacamata tebal, dan behel Meg ditulis seolah-olah itu membuat dia kelihatan jelek atau bahkan seram. Aku kurang suka karena ini kesannya memperkuat stereotip negatif tentang anak nerdy atau orang yang pintar, rasanya mereka tidak bisa dianggap normal atau menarik. Meg bisa saja digambarkan dengan penampilan seperti itu tanpa harus dianggap buruk, dan dia bisa merasa tidak cocok dengan lingkungannya tanpa harus menjadikan penampilannya sebagai masalah utama. Hanya karena dia kesulitan di sekolah dan susah bergaul, bukan berarti penampilannya juga harus dikaitkan dengan hal itu secara negatif.  

■ Aku juga agak kesal karena rasa ingin tahu Meg kadang malah dianggap sepele. Dia banyak bertanya karena ya, dia masih 13 tahun dan lagi berusaha memahami dunia. Misalnya, saat dia ketemu Calvin, dia langsung bertanya ke ibunya apa pendapatnya tentang anak laki-laki itu, dan dia ingin jawaban cepat. Tapi bukannya mendapat jawaban yang jelas, ibunya malah bilang dia harus sabar. Aku paham sih kalau sabar itu penting, tapi rasa ingin tahu juga sesuatu yang wajar dan bagus, kan? Daripada menjawab dengan ngambang, ibunya bisa jujur dengan bilang dia belum tahu atau menjelaskan kalau butuh waktu buat benar-benar mengenal seseorang. Di sini, kesannya Meg yang ingin tahu malah dianggap tidak sabaran, padahal menurutku itu lebih ke sifat alami orang yang ingin belajar.)


CONCLUSION 

A Wrinkle in Time is a bold and imaginative novel that blends science fiction, fantasy, and deep philosophical ideas about life. I like how it encourages readers to be brave, think independently, and believe in the power of love. This book does a great job of showing how young characters can take charge of their own journey and make a difference. I also found the way it blends science and spirituality really interesting. That being said, I struggled with the way the story was told. The explanations for scientific concepts and philosophical ideas were often too vague, the pacing felt uneven, and the world-building wasn’t as detailed as I’d hoped. These things made parts of the book feel confusing or hard to connect with. While the overall message is inspiring, I feel like the execution didn’t fully live up to the book’s potential. It has powerful themes and some memorable moments, but the way it’s written might not work for everyone, especially readers who prefer a clearer, more structured story. Whether you love it or struggle with it will likely depend on your preferences in storytelling.

(A Wrinkle in Time adalah novel yang berani dan penuh imajinasi, memadukan antara sci-fi, fantasi, dan ide-ide filosofis tentang kehidupan. Aku suka bagaimana buku ini mengajarkan kita untuk berani, berpikir mandiri, dan percaya dengan kekuatan cinta. Ceritanya juga bagus dalam menunjukkan kalau anak-anak bisa mengambil kendali atas perjalanan mereka sendiri dan benar-benar menciptakan perubahan. Terus, cara buku ini menggabungkan sains dan spiritualitas juga menarik banget. Tapi, jujur saja, aku agak kesulitan dengan cara ceritanya disampaikan. Penjelasan soal konsep sains dan ide-ide filosofisnya sering terlalu samar, tempo ceritanya terasa naik-turun, dan dunia yang dibangun tidak sedetail yang aku harapkan. Hal-hal ini membuat beberapa bagian terasa membingungkan atau susah buat relate. Pesan yang disampaikan memang kuat dan inspiratif, tapi menurutku eksekusinya masih bisa lebih maksimal. Bukunya punya tema yang dalam dan beberapa momen yang berkesan, tapi cara penulisannya mungkin tidak bisa cocok buat semua orang, terutama kalau kamu lebih suka cerita yang lebih jelas dan terstruktur. Apakah kamu bakal suka atau malah merasa kesulitan dengan buku ini, menurutku bakal sangat tergantung pada preferensi masing-masing dalam menikmati cerita.)

0 Comments

don't use this comment form, use the embedded disqus comment section. No spam!

Note: only a member of this blog may post a comment.