7 Manfaat Buku Middle-Grade Bagi Pembaca Dewasa

 


Pernah nggak sih, dengar komentar kayak, "Buku middle-grade? Itu kan buat anak-anak, masa orang dewasa baca begituan?" atau "Udah gede kok masih baca cerita anak?" Padahal, buku middle-grade bukan cuma bacaan untuk anak usia 8-12 tahun, tapi juga punya banyak hal seru yang bisa dinikmati siapa saja, termasuk orang dewasa! Dari cerita yang heartwarming, petualangan seru, sampai pesan hidup yang dalam, buku middle-grade sering kali lebih bermakna dari yang dikira. Nah, di sini kita bakal membahas kenapa buku middle-grade itu bukan sekadar bacaan anak-anak dan justru bisa jadi sumber hiburan, inspirasi, bahkan healing buat orang dewasa.


Mitos dan Stereotip tentang Buku Middle-Grade

Banyak orang masih salah paham soal buku middle-grade. Kadang dianggap terlalu kekanak-kanakan, terlalu sederhana, atau nggak cocok buat pembaca dewasa. Padahal, anggapan ini sering kali keliru! Yuk, kita bahas beberapa mitos dan stereotip yang sering beredar tentang buku middle-grade.

1. Middle-grade itu buku anak-anak, nggak ada yang bisa dinikmati orang dewasa

Faktanya, buku middle-grade sering kali punya tema universal yang bisa dinikmati siapa saja. Nilai-nilai seperti persahabatan, keberanian, dan perjalanan menemukan jati diri tetap relevan untuk semua umur. Banyak juga buku middle-grade yang menyajikan cerita dengan aspek emosional dan makna yang nggak kalah dari buku untuk dewasa.

2. Bahasanya terlalu simpel dan membosankan

Memang, bahasa dalam middle-grade lebih sederhana dibanding young adult atau buku dewasa, tapi itu bukan berarti membosankan. Justru, gaya bahasa yang mengalir dan to the point bikin ceritanya lebih engaging dan gampang dinikmati. Beberapa buku middle-grade bahkan punya narasi yang puitis dan indah, seperti Other Words for Home atau The Girl Who Drank the Moon.

3. Ceritanya terlalu ringan dan nggak berbobot

Jangan salah! Banyak middle-grade yang membahas tema-tema serius seperti kehilangan, kesehatan mental, identitas, dan perjuangan menghadapi tantangan hidup. Buku seperti AfterMath membahas trauma pasca tragedi penembakan di sekolah, The War That Saved My Life mengangkat kisah tentang penyintas kekerasan keluarga di tengah Perang Dunia II, sementara How to Become a Planet mengeksplorasi isu kesehatan mental pada anak-anak.

4. Semua middle-grade itu cuma tentang petualangan atau fantasi

Meskipun genre fantasi memang populer dalam middle-grade, ada banyak juga buku middle-grade yang bergenre lain, seperti realistic fiction, historical fiction, hingga horror. Misalnya, Fifty-Four Things Wrong with Gwendolyn Rogers mengangkat cerita anak dengan ADHD, Na Willa menyajikan kisah slice-of-life berlatar Indonesia, dan The Shark Caller punya unsur magical realism dengan latar Papua Nugini.

5. Baca middle-grade berarti nggak punya selera buku yang ‘berat’

Sebenernya, membaca buku middle-grade itu bukan masalah tingkat selera tapi lebih ke preferensi. Sama kayak orang yang suka nonton film animasi meskipun udah dewasa, bukan berarti mereka nggak bisa menikmati film berat.

6. Baca buku middle-grade tuh kayak masa kecil kurang bahagia

Ada juga yang berpikir kalau orang dewasa yang baca middle-grade itu seperti balas dendam dari masa kecil yang kurang bahagia. Padahal, banyak orang dewasa baca middle-grade justru karena mereka menikmati ceritanya, bukan karena ada yang kurang dari masa kecil mereka. Bahkan, buat beberapa orang, middle-grade bisa buat healing dan memberikan perspektif baru terhadap pengalaman masa lalu.


Manfaat Baca Buku Middle-Grade untuk Orang Dewasa

Sekarang kita udah tahu kalau buku middle-grade nggak bisa diremehkan. Justru, ada banyak manfaat yang bisa didapat orang dewasa dari membaca buku middle-grade. Yuk, kita bahas satu per satu!

1. Bacaan yang menenangkan dan bikin nyaman

Kadang kita butuh sesuatu yang ringan tapi tetap bermakna, dan middle-grade pas banget buat itu. Gaya ceritanya yang straightforward, dengan narasi yang hangat dan penuh harapan, bisa jadi comfort read buat mengistirahatkan pikiran dari stres sehari-hari.

2. Nostalgia dan healing

Buku middle-grade sering kali membawa kita kembali ke masa kecil, bukan sekadar nostalgia, tapi juga kesempatan untuk memahami diri sendiri. Bagi yang punya pengalaman masa kecil kurang menyenangkan, membaca middle-grade bisa jadi cara buat memahami dan melihat masa lalu dari sudut pandang yang lebih lembut.

3. Pesan dan nilai hidup yang relatable

Jangan kira buku middle-grade cuma buat anak-anak, karena banyak pesannya yang justru kena banget buat orang dewasa. Tema seperti keberanian menghadapi perubahan (The Girl Who Drank the Moon), self-acceptance (How to Become a Planet), atau pentingnya komunitas dan kebaikan (The Ogress and the Orphans) bisa jadi refleksi buat kehidupan kita sekarang.

4. Bisa untuk mulai baca buku bahasa Inggris

Buat yang pengen baca buku berbahasa Inggris tapi takut ketemu yang berat-berat, middle-grade bisa jadi pilihan yang pas. Struktur kalimatnya lebih simpel dibanding young adult atau adult fiction, tapi ceritanya tetap engaging. Banyak juga middle-grade yang menawarkan world-building keren dan plot yang bikin penasaran, kayak Keeper of the Lost Cities atau Nevermoor.

5. Memantik imajinasi dan kreativitas

Middle-grade sering punya unsur petualangan, fantasi, atau sudut pandang unik yang bisa memicu imajinasi. Cocok banget buat orang yang butuh inspirasi dalam menulis, menggambar, atau pekerjaan kreatif lainnya. Bahkan buku-buku klasik seperti Alice’s Adventures in Wonderland atau The Wonderful Wizard of Oz masih terus menginspirasi banyak karya hingga sekarang.

6. Mengajarkan cara melihat dunia dengan lebih sederhana

Buku middle-grade mengingatkan kita bahwa hidup nggak selalu harus serumit yang kita pikirkan. Kadang, solusi dari masalah bisa sesimpel berbicara dengan jujur, meminta bantuan, atau percaya pada orang lain. Cara middle-grade menyampaikan pelajaran hidup dengan sederhana tapi bermakna bisa bikin kita melihat dunia dari perspektif yang lebih fresh.

7. Menjadi jembatan untuk memahami anak-anak 

Buat yang punya anak, adik, atau keponakan yang suka baca, middle-grade bisa jadi bahan obrolan seru. Membaca buku yang sama bisa jadi cara buat memunculkan empati dan memahami bagaimana anak-anak melihat dunia mereka.


Rekomendasi Buku Middle-grade yang Cocok untuk Pembaca Dewasa

1. The Shark Caller oleh Zillah Bethell

Berlatar di Papua Nugini, buku ini menyajikan petualangan emosional tentang kehilangan, persahabatan, dan hubungan manusia dengan alam. Cocok buat yang suka kisah menyentuh dan atmosfer budaya yang kuat.

2. Keeper of the Lost Cities oleh Shannon Messenger

Kalau suka fantasi epik yang seru tapi tetap mudah diikuti, ini pilihan tepat! Perjalanan Sophie menemukan kebenaran dan menghadapi berbagai misteri bikin nagih banget.

3. Na Willa oleh Reda Gaudiamo

Buku lokal yang menggambarkan masa kecil di Indonesia dengan gaya cerita sederhana tapi penuh makna. Baca ini tuh kayak nostalgia masa kecil.

4. The War That Saved My Life oleh Kimberly Brubaker Bradley

Buku historical fiction yang bercerita tentang seorang gadis dengan kaki pincang yang akhirnya menemukan kebebasan dan cinta dalam keluarga yang tak terduga. Penuh emosi dan inspirasi!

5. The Little Prince oleh Antoine de Saint-Exupéry

Buku klasik yang selalu relevan. Penuh filosofi sederhana tapi dalam, mengajak kita melihat dunia dari perspektif yang lebih jujur dan penuh keajaiban.


Kesimpulan: Middle-grade bukan hanya untuk anak-anak

Buku middle-grade mungkin ditujukan untuk pembaca usia 8-12 tahun, tapi manfaatnya bisa dirasakan siapa saja, termasuk orang dewasa. Dari cerita yang heartwarming, pesan hidup yang relatable, sampai gaya bahasa yang nyaman dibaca, middle-grade bisa jadi pilihan bacaan yang menyenangkan sekaligus bermakna.

Jadi, gimana menurut kamu? Pernah baca buku middle-grade yang meninggalkan kesan mendalam? Atau masih ragu buat mencoba? Yuk, share pendapatmu di kolom komentar! Siapa tahu, kita bisa saling bertukar rekomendasi buku.


0 Comments

don't use this comment form, use the embedded disqus comment section. No spam!

Note: only a member of this blog may post a comment.