Spell Sweeper by Lee Edward Födi puts a unique spin on the usual wizard school story. Instead of following powerful wizards, it focuses on the people who clean up after them, literally. The main character, Cara Moone, isn’t some prodigy or Chosen One. In fact, she’s considered a remedial student because her magic is unpredictable. Instead of learning fancy spells, she’s stuck as a Spell Sweeper, cleaning up the magical messes left behind by real wizards. But when strange magical rifts start appearing, Cara and her team realize something big is happening, something even the powerful wizards don’t understand.
(Spell Sweeper oleh Lee Edward Födi menghadirkan sentuhan segar pada cerita sekolah sihir. Bukannya mengikuti kisah para penyihir hebat, buku ini justru berfokus pada orang-orang yang harus bersih-bersih setelah mereka beraksi, secara harfiah. Tokoh utamanya, Cara Moone, bukanlah anak yang spesial atau Sang Terpilih. Dia justru dianggap sebagai murid remedial karena sihirnya sering kacau. Bukannya belajar mantra-mantra keren, dia malah terjebak menjadi Spell Sweeper, tukang bersih-bersih sisa mantra sihir para penyihir sungguhan. Tapi ketika celah-celah sihir aneh mulai bermunculan, Cara dan timnya sadar ada sesuatu yang besar sedang terjadi, sesuatu yang bahkan para penyihir terkuat pun tak bisa menjelaskan.)
BOOK REVIEW
At first glance, Spell Sweeper might seem like just another magic school story, but beneath its spells and unique perspective, it’s about something much more relatable like self-worth, feeling unheard, and the invisible work that keeps everything running. It follows Caradine Moone (Cara), a remedial wizard who doesn’t have impressive abilities like her classmates. Instead of learning spells, she’s stuck cleaning up the magical messes left behind by real wizards. But as the plot develops, Cara starts to realize something important that every role matters, even the ones no one pays attention to.
A part that really made an impact in this book was Cara’s struggle with feeling like an outsider. She doesn’t come from a magical family, and unlike her classmates, she’s not a natural talent. Being part of the MOP (Magical Occurrence Purger) program, essentially the janitors of the wizarding world, only makes her feel even more unimportant. This reflects how, in real life, so many people (especially teenagers) feel like they don’t matter just because they aren’t the best at something. This book is a reminder that you don’t have to be in the spotlight to be important.
Beyond its theme about self-worth, this book also has an interesting take on magic. Most fantasy books treat magic as an amazing, powerful thing, but this one explores the mess it leaves behind. Magic in this world has side effects which are spell dust and residue that someone has to clean up. This idea makes us think about real-world issues like pollution and waste. Just like in this book, progress in our world (whether it's technology, industry, or consumerism) leaves behind consequences, and someone has to deal with them. This book subtly reminds us that nothing comes without responsibility, and it’s important to acknowledge the people who do the behind-the-scenes work.
The idea of the behind-the-scenes work itself shows us the kind of work that keeps everything running and functioning in real life, jobs like janitors, garbage collectors, and other roles that people often take for granted. Being an MOP made Cara constantly compare herself to Harlee Wu, the Chosen One who’s expected to save the world. But as we follow her journey, she realizes that her job is actually crucial. This book makes an important point that just because a job isn’t glamorous doesn’t mean it isn’t essential. This message is really relevant, especially now, when there’s so much conversation about fair wages and recognizing essential workers.
Another thing I love about this book is how it shows the frustration of not being taken seriously. Throughout the story, Cara notices something wrong, magical rifts appearing where they shouldn’t be. But because she’s just a remedial student, no one listens to her. This felt so real because, let’s be honest, how often do teenagers bring up valid concerns only to be brushed off by adults? Even Harlee Wu, who’s supposed to be the hero, struggles with this. Everyone expects her to succeed but doesn’t actually stop to ask what she needs. This book does a great job of showing that teenagers’ voices matter and should be heard.
One of the most interesting things about this book is how it changes the usual Chosen One story. Instead of following the legendary hero, we see everything from Cara’s perspective, someone stuck watching from the sidelines as Harlee Wu, the magical world's hero, takes center stage. At first, Cara can’t stand Harlee, seeing her as flawless and untouchable. But as the story unfolds, she starts to realize that being special comes with unexpected challenges. Harlee is also a teenager dealing with crushing pressure and expectations. This makes us think about how, in real life, people often assume that the golden child has it easy, when in reality, they’re struggling too. This book does a great job of showing that no matter how perfect someone seems, they’re carrying their own burdens.
This book also explores power and the responsibilities that come with it. Through Harlee and the wizards in charge, we see two very different ways people handle power. Some wizards chase personal glory without thinking about the consequences, while Harlee, despite being the Chosen One, doesn’t always get the support she needs. This makes us think about how leadership works in the real world where some people only want power for themselves, while true leaders are the ones who care about others and take responsibility for their actions. The story shows the idea that power isn’t about recognition, but it’s about using it wisely and for the right reasons.
Lastly, I love how this book shows the importance of teamwork. At the start, Cara feels like she has to prove herself on her own, but as she spends more time with her crew, she realizes that success isn’t just about individual talent, but also about trusting and supporting each other. Their journey is both about fixing magical messes and forming real connections and learning to work together. This book does a great job of showing that big achievements rarely happen alone, because most of the time, it’s teamwork that makes the difference.
(Sepintas, Spell Sweeper mungkin terlihat seperti cerita sekolah sihir pada umumnya, tapi di balik mantra dan sudut pandangnya yang unik, buku ini sebenarnya membahas hal-hal yang jauh lebih dekat dengan kehidupan, seperti harga diri, perasaan tidak didengar, dan kerja keras yang sering luput dari perhatian tapi sangat penting. Buku ini mengikuti perjalanan Caradine Moone (Cara), seorang murid kelas remedial yang tidak punya bakat sihir hebat seperti teman-temannya. Bukannya belajar mantra keren, dia malah menjadi Spell Sweeper, tugasnya membersihkan sisa-sisa sihir yang berserakan. Tapi seiring cerita berkembang, Cara mulai menyadari satu hal penting bahwa setiap peran itu berarti, bahkan yang sering dianggap sepele.
Salah satu bagian yang paling berkesan buat aku adalah bagaimana Cara merasa seperti orang luar. Dia tidak berasal dari keluarga penyihir, dan tidak punya bakat alami seperti teman-temannya. Ditambah lagi, dia masuk ke program MOP (Magical Occurrence Purger), yang pada dasarnya adalah tukang bersih-bersih dunia sihir, yang membuatnya merasa semakin tidak penting. Ini sangat relatable, karena di dunia nyata, banyak orang (terutama remaja) yang merasa tidak berharga hanya karena mereka bukan yang terbaik dalam sesuatu. Buku ini jadi pengingat kalau kita tidak perlu menjadi pusat perhatian untuk jadi berarti.
Selain membahas tentang kepercayaan diri, buku ini juga punya sudut pandang unik tentang sihir. Kebanyakan buku fantasi menggambarkan sihir sebagai sesuatu yang keren dan luar biasa, tapi di sini, kita diajak untuk melihat sisi lainnya yaitu kekacauan yang ditinggalkannya. Di dunia Spell Sweeper, sihir punya efek samping berupa debu sihir dan sisa-sisa mantra yang harus dibersihkan. Ini membuatku kepikiran tentang masalah dunia nyata, seperti polusi dan limbah. Sama seperti di buku ini, kemajuan di dunia kita, baik dalam teknologi, industri, atau gaya hidup, selalu meninggalkan dampak, dan seseorang harus menanganinya. Buku ini secara halus mengingatkan kita kalau setiap kemajuan datang bersama dengan tanggung jawab, dan kita harus menghargai orang-orang yang bekerja di balik layar untuk menjaga semuanya tetap berjalan.
Konsep pekerjaan di balik layar ini juga mengingatkan kita pada pekerjaan di dunia nyata yang sering dianggap remeh, seperti petugas kebersihan, tukang sampah, dan profesi lain yang sebenarnya sangat penting. Sebagai anggota MOP, Cara terus membandingkan dirinya dengan Harlee Wu, Sang Terpilih yang ditakdirkan menyelamatkan dunia. Tapi semakin jauh kita mengikuti perjalanannya, semakin jelas bahwa pekerjaan Cara sebenarnya sangat krusial. Buku ini menyampaikan pesan penting bahwa hanya karena suatu pekerjaan tidak terlihat mewah, bukan berarti pekerjaan itu tidak esensial. Pesan ini sangat relevan, terutama sekarang, di mana banyak orang mulai lebih sadar akan pentingnya upah yang adil dan pengakuan untuk pekerja esensial.
Satu lagi yang aku suka dari buku ini adalah bagaimana ia menggambarkan perasaan frustrasi saat tidak didengar. Sepanjang cerita, Cara menyadari ada sesuatu yang salah yaitu retakan sihir yang mulai muncul di tempat yang seharusnya tidak ada. Tapi karena dia cuma murid remedial, tidak ada yang mau mendengarnya. Ini terasa sangat nyata, karena jujur saja, berapa kali remaja menyampaikan sesuatu yang valid tapi malah diabaikan oleh orang dewasa? Bahkan Harlee Wu, yang seharusnya menjadi pahlawan, juga mengalami hal yang sama. Semua orang berharap dia berhasil, tapi tidak ada yang benar-benar bertanya apa yang dia butuhkan. Buku ini menunjukkan dengan sangat baik bahwa suara remaja itu penting dan layak untuk didengar.
Salah satu hal paling menarik dari buku ini adalah bagaimana ia mengubah cerita Chosen One yang biasa kita lihat. Bukannya mengikuti sang pahlawan legendaris, kita justru melihat segalanya dari sudut pandang Cara, seseorang yang hanya bisa menonton dari pinggiran saat Harlee Wu, sang pahlawan dunia sihir, menjadi pusat perhatian. Awalnya, Cara tidak tahan dengan Harlee yang merupakan sosok yang sempurna dan tidak tersentuh. Tapi seiring berjalannya cerita, Cara mulai sadar bahwa menjadi spesial ternyata punya tantangan sendiri. Harlee juga remaja biasa yang harus menghadapi tekanan dan ekspektasi besar. Ini membuat kita berpikir bahwa di dunia nyata, sering kali kita mengira si anak emas hidupnya mudah, padahal mereka juga punya beban sendiri. Buku ini berhasil menunjukkan bahwa tidak peduli seberapa sempurna seseorang terlihat, mereka tetap punya masalahnya sendiri.
Buku ini juga membahas tentang kekuatan dan tanggung jawab yang datang bersamanya. Lewat Harlee dan para penyihir yang kuat, kita bisa melihat dua cara berbeda orang-orang dalam menangani kekuatan. Ada penyihir yang hanya mengejar keuntungan pribadi tanpa memikirkan akibatnya, sementara Harlee, meskipun ditakdirkan sebagai Chosen One, tidak selalu mendapatkan dukungan yang dia butuhkan. Ini mencerminkan bagaimana kepemimpinan di dunia nyata bekerja, ada orang yang cuma ingin berkuasa demi keuntungan sendiri, dan ada juga pemimpin sejati yang benar-benar peduli dengan orang lain dan bertanggung jawab atas tindakannya. Cerita ini mengajarkan bahwa kekuatan bukan tentang pengakuan, tapi tentang bagaimana menggunakannya dengan bijak dan untuk tujuan yang benar.
Terakhir, aku suka sekali bagaimana buku ini menyoroti pentingnya kerja sama. Di awal, Cara merasa dia harus membuktikan dirinya sendirian. Tapi semakin lama dia menghabiskan waktu dengan timnya, dia sadar bahwa kesuksesan bukan cuma soal bakat individu, tapi juga soal saling percaya dan mendukung satu sama lain. Perjalanan mereka bukan cuma tentang membersihkan residu sihir, tapi juga tentang membangun hubungan yang tulus dan belajar bekerja sama. Buku ini dengan sangat baik menunjukkan bahwa pencapaian besar jarang terjadi sendirian, karena kebanyakan dari waktu ke waktu, justru kerja samalah yang membuat perbedaan.)
THE FAVORITES
■ Most books about magic focus on powerful wizards and epic spells, but this book takes a different approach. It shifts the spotlight to the ones cleaning up the mess, the janitors of the magical world. I love how this makes the magic system feel more realistic and grounded. It’s a fresh perspective that sets this book apart from the usual wizard school stories.
■ Cara Moone isn’t some prodigy or special hero, she’s just a struggling student in remedial magic classes. She’s sarcastic, frustrated, and sometimes makes bad decisions, which makes her feel real. But what I liked most was her growth throughout this book. She learns that even if her role isn’t impressive, it still matters.
■ Harlee Wu is supposed to be the Chosen One, but instead of being a flawless hero, she’s just a teenager trying to handle all the pressure thrown at her. This book does a great job showing how isolating and overwhelming it can be to have huge expectations placed on you. I like how it changes the Chosen One trope and makes Harlee a more complex and relatable character.
■ One of the things that caught my attention was how this book highlights the importance of invisible labor. The MOP team’s job which uis cleaning up after magic, isn’t glamorous, but it’s essential. This reminds us of real-life essential workers, whose efforts often go unnoticed even though society wouldn’t function without them.
■ The last few chapters had some major surprises that made it hard to put down. I love when a book can completely surprised me, and this book delivered some really satisfying shocking reveals. Everything tied together in a way that made sense, and it was exciting to see how all the little details fell into place.
■ What I appreciated about the ending wasn’t just that the story wrapped up well, but that the characters all experienced character development. Cara and the others face their fears, overcome challenges, and discover their strengths. It’s the kind of ending that leaves us feeling hopeful, which made finishing the book even more rewarding.
(■ Kebanyakan buku tentang sihir biasanya berfokus pada penyihir hebat dan mantra-mantra epik, tapi buku ini punya pendekatan yang berbeda. Alih-alih menyoroti pahlawan berkekuatan besar, cerita ini justru berfokus pada mereka yang harus beres-beres setelahnya yaitu para petugas kebersihan di dunia sihir. Aku suka bagaimana hal ini membuat sistem sihir di buku ini terasa lebih nyata dan masuk akal. Sudut pandang yang segar ini benar-benar membuat buku ini berbeda dari cerita sekolah sihir pada umumnya.
■ Cara Moone bukan anak yang spesial atau pahlawan istimewa, dia cuma murid remedial yang kesulitan mengendalikan sihirnya. Dia sarkastik, gampang kesal, dan kadang membuat keputusan buruk, yang justru membuat dia terasa seperti karakter yang nyata. Tapi yang paling aku suka adalah perkembangan karakternya sepanjang cerita. Dia belajar bahwa meskipun perannya tidak keren, itu tetap penting.
■ Harlee Wu seharusnya menjadi Chosen One, tapi bukannya jadi pahlawan sempurna, dia cuma remaja biasa yang berusaha menghadapi tekanan besar yang ada di pundaknya. Buku ini berhasil menunjukkan bagaimana rasanya terisolasi dan kewalahan karena beban ekspektasi yang terlalu tinggi. Aku suka bagaimana cerita ini mengubah konsep Chosen One dengan membuat Harlee menjadi karakter yang lebih kompleks dan relatable.
■ Salah satu hal yang langsung menarik perhatianku adalah bagaimana buku ini menyoroti pekerjaan yang sering luput dari perhatian. Tim MOP yang bertugas membersihkan sisa-sisa sihir mungkin tidak kelihatan keren, tapi peran mereka esensial. Ini mengingatkan kita pada pekerja-pekerja penting di dunia nyata yang sering tidak dihargai, padahal tanpa mereka, semuanya tidak akan bisa berjalan dengan baik.
■ Beberapa bab terakhir penuh dengan kejutan yang membuat aku sulit untuk berhenti membaca. Aku suka kalau ada buku yang bisa benar-benar memmbuat aku terkejut, dan buku ini berhasil menghadirkan plot twist yang memuaskan. Semua detail kecil yang sebelumnya terasa sepele ternyata dikaitkan dengan cara yang masuk akal, dan itu membuat ceritanya semakin seru.
■ Yang aku apresiasi dari ending-nya bukan cuma karena ceritanya terselesaikan dengan baik, tapi juga karena setiap karakter mengalami perkembangan. Cara dan yang lainnya menghadapi ketakutan mereka, mengatasi tantangan, dan menemukan kekuatan dalam diri mereka. Ini tipe ending yang meninggalkan kesan optimis dan membuat pengalaman membaca menjadi lebih berkesan.)
THE DRAWBACKS
■ This story was engaging for the most part, but towards the end, some transitions between scenes felt a bit confusing. There were moments where I had to stop and reread sections just to figure out what was going on.
■ One of the magic systems in this book is that wizards’ cheeks glow when they use magic, but Cara keeps mentioning that her freckles glow even when she’s not actively using magic. I couldn’t tell if this was supposed to be a joke, something unique about her, or if it actually meant something important.
■ The main characters all have satisfying arcs, but the villain barely plays a direct role in the story. He never actually appears, and we don’t get to learn much about his motives, backstory, or even what he looks like.
(■ Ceritanya seru untuk sebagian besar buku ini, tapi menjelang akhir, beberapa perpindahan antar adegan terasa agak membingungkan. Ada momen di mana aku harus berhenti dan membaca ulang beberapa bagian supaya bisa benar-benar paham apa yang sedang terjadi.
■ Salah satu elemen sihir di buku ini adalah pipi para penyihir akan bersinar saat mereka menggunakan sihir. Tapi Cara terus menyebutkan bahwa bintik-bintik di wajahnya bersinar, bahkan saat dia nggak sedang memakai sihir. Aku tidak yakin apakah ini cuma lelucon, sesuatu yang unik dari dirinya, atau memang punya makna penting dalam cerita.
■ Para karakter utama punya perkembangan yang memuaskan, tapi tokoh antagonisnya hampir tidak punya peran langsung dalam cerita. Dia tidak pernah benar-benar muncul, dan kita juga tidak dapat banyak info tentang motifnya, latar belakangnya, atau bahkan seperti apa penampilannya.)
CONCLUSION
Spell Sweeper is a refreshing story in the magical school category by shifting the focus from powerful spellcasters to the people working behind the scenes. Cara’s journey is more than just a fun adventure, it’s a story about self-worth, the importance of unseen work, and why young voices deserve to be heard. This book also explores what it really means to be special and the pressure that comes with it. While there are some flaws, like moments of confusing narration and a villain who never actually shows up, the story is still engaging and inspiring. With its humor, well-developed characters, and meaningful themes, this bpok is a reminder that being a hero isn’t about having spectacular magic, but it’s about perseverance, teamwork, and understanding that every role matters.
(Spell Sweeper adalah cerita yang menyegarkan dalam kategori sekolah sihir karena bukannya berfokus pada penyihir hebat, buku ini menyoroti orang-orang yang bekerja di balik layar. Perjalanan Cara bukan sekadar petualangan seru, tapi juga cerita tentang kepercayaan diri, pentingnya pekerjaan yang sering tak terlihat, dan mengapa suara anak muda layak didengar. Buku ini juga mengeksplorasi makna sebenarnya dari menjadi istimewa serta tekanan yang menyertainya. Meskipun ada beberapa kekurangan, seperti narasi yang kadang membingungkan dan sosok villain yang tidak pernah benar-benar muncul, ceritanya tetap menarik dan inspiratif. Dengan humor, karakter yang berkembang dengan baik, dan tema yang bermakna, buku ini mengingatkan kita bahwa menjadi pahlawan bukan tentang memiliki sihir luar biasa, tapi tentang ketekunan, kerja sama tim, dan menyadari bahwa setiap peran itu penting.)
0 Comments
don't use this comment form, use the embedded disqus comment section. No spam!
Note: only a member of this blog may post a comment.