Temple Alley Summer by Sachiko Kashiwaba | Book Review

Temple Alley Summer by Sachiko Kashiwaba is a mysterious story that mixes history, folklore, and a strange, unsettling feeling. It starts with Kazu, a regular boy who suddenly sees a girl in a white kimono leaving his house late at night. He knows she wasn’t there before, but the next day, everyone at school acts like she’s always been in their class. Something doesn’t add up, and Kazu can’t ignore it. As he starts digging for answers, he uncovers hidden parts of his town’s past, a temple with a connection to bringing people back, and an old short story that might explain everything.

(Temple Alley Summer oleh Sachiko Kashiwaba ini ceritanya misterius, perpaduan antara sejarah, cerita rakyat, dan nuansa aneh yang bikin merinding. Ceritanya dimulai saat Kazu, anak laki-laki yang biasa-biasa saja, tiba-tiba melihat ada anak perempuan mengenakan kimono putih keluar dari rumahnya di malam hari. Padahal, dia yakin sekali tidak ada anak perempuan itu sebelumnya. Besoknya, semua orang di sekolahnya malah menganggap anak perempuan itu sudah ada di kelas mereka dari dulu. Kazu merasa ada yang nggak beres, dan dia penasaran banget. Akhirnya, dia mulai mencari tahu, dan menemukan bagian-bagian tersembunyi dari kota tempat tinggalnya, ada kuil yang katanya bisa membuat orang hidup lagi, lalu ada cerita pendek jaman dulu yang mungkin bisa menjawab semua misteri ini.)


BOOK REVIEW 

What if someone who has been dead for years suddenly came back, but no one else noticed they were ever gone? Temple Alley Summer by Sachiko Kashiwaba is a mysterious and slightly eerie story that mixes folklore, history, and forgotten memories. It follows Kazu, a boy who, one night, sees a girl step out of his house, even though she wasn’t there before. But the next day, everyone at school acts like that girl always been in their class. Confused but determined to find out the truth, Kazu starts digging into his town’s past and discovers something unsettling: some people have mysteriously returned from the dead, but not in the way you’d expect.

Beyond the mystery, this book has a strong message about kindness and connection. Kazu doesn’t really understand Akari’s situation, but he still decides to help her. His actions show that even when things are confusing or don’t seem to make sense, standing by someone and believing in them can make a huge difference. I really like how this story points out small acts of kindness, how even the smallest choices can have a big influence in ways we don’t always realize.

This book also made me think about what it means to move on after losing someone. If you had the chance to bring back someone you lost, would you? And if you couldn’t, how would you learn to accept their absence? This story doesn’t give simple answers, but it makes us reflect on grief and how we remember the people we’ve lost. It implies that holding onto memories and stories might be just as important as having the person physically with us. In a way, it reminds us that people never really disappear as long as we choose to remember them.

(Bayangkan kalau seseorang yang sudah meninggal bertahun-tahun tiba-tiba balik lagi, tapi cuma kamu yang sadar kalau mereka pernah pergi. Temple Alley Summer oleh Sachiko Kashiwaba adalah cerita yang misterius dan agak membuat merinding, dengan campuran unsur folklore, sejarah, dan kenangan yang terlupakan. Ceritanya tentang Kazu, seorang anak laki-laki yang suatu malam melihat seorang anak perempuan keluar dari rumahnya, padahal sebelumnya dia nggak ada di sana. Tapi keesokan harinya, semua orang di sekolah bertingkah seolah anak perempuan itu memang selalu ada di kelas mereka. Penasaran dan bingung, Kazu mulai menyelidiki masa lalu kotanya dan menemukan sesuatu yang nggak biasa: ada orang-orang yang kembali dari kematian, tapi caranya nggak seperti yang kamu bayangkan.

Tapi lebih dari sekadar misteri, buku ini juga punya pesan yang kuat tentang kebaikan dan hubungan antar manusia. Kazu mungkin nggak sepenuhnya paham situasi Akari, tapi dia tetap memilih untuk menolongnya. Ini menunjukkan kalau kadang kita nggak harus mengerti segalanya dulu untuk bisa ada buat orang lain. Aku suka bagaimana cerita ini menunjukkan kebaikan-kebaikan kecil, hal-hal sederhana yang mungkin kelihatan sepele, tapi ternyata punya dampak besar buat orang lain.

Selain itu, buku ini juga bikin aku mikir tentang gimana kita menghadapi kehilangan. Kalau kita punya kesempatan untuk membawa kembali seseorang yang sudah tiada, apakah kita akan melakukannya? Dan kalau tidak bisa, bagaimana caranya kita belajar menerima kepergian mereka? Cerita ini nggak kasih jawaban yang jelas, tapi justru mengajak kita untuk merenung soal duka dan bagaimana kita mengenang orang-orang yang sudah tidak ada. Pesan yang aku dapat adalah, mungkin mengingat dan menyimpan cerita tentang mereka itu sama berharganya dengan kehadiran mereka secara fisik. Di satu sisi, buku ini mengingatkan kalau seseorang nggak benar-benar pergi selama kita masih mengingat mereka.)


THINGS I LOVE 

■This book has a quiet, eerie vibe where things don’t add up at first, which makes the mystery even more interesting. The idea of a temple connected to people returning from death but not fully belonging is both creepy and fascinating. 

■Kazu isn’t some special hero, he’s just a normal boy who’s curious and refuses to ignore things that don’t make sense. He keeps asking questions even when adults brush him off, which makes him really easy to root for. I like how determined he was to help Akari, even though he didn’t fully understand what was happening.  

■This book isn’t a typical scary ghost story. Instead of focusing on fear, it explores deeper themes like memory, loss, and belonging. It’s more emotional and mysterious rather than outright creepy, which makes it stand out from other supernatural stories. I liked that it felt different from both horror and fun, lighthearted ghost stories, because it has its own unique vibe.

(■Buku ini punya vibe yang tenang tapi agak seram, di mana hal-hal awalnya nggak nyambung, dan itu malah bikin misterinya semakin menarik. Gagasan tentang kuil yang berkaitan dengan orang-orang yang kembali dari kematian, tapi tidak benar-benar jadi bagian dunia ini, bikin merinding sekaligus bikin penasaran.  

■Kazu bukan hero kebanyakan yang spesial atau punya kekuatan aneh-aneh. Dia cuma anak biasa yang penasaran dan tidak mau mengabaikan hal-hal yang tidak masuk akal. Dia terus bertanya-tanya meskipun orang dewasa sering ngeyel atau tidak memberikan jawaban yang jelas. Itu yang bikin kita langsung suka sama dia. Aku suka gimana dia tetap nekat membantu Akari, meskipun dia sendiri nggak sepenuhnya memahami apa yang sebenarnya terjadi.  

■Buku ini nggak kayak cerita hantu yang serem-ngeri-ngeri sedap. Bukannya berfokus pada hal-hal yang membuat takut, ceritanya malah membahas tema-tema yang lebih dalam seperti ingatan, kehilangan, dan belonging. Lebih ke arah emosional dan misterius ketimbang seram, dan itu yang bikin ceritanya beda dari cerita supernatural lainnya. Aku suka karena ceritanya nggak kayak horor, tapi juga nggak kayak cerita hantu yang ringan dan lucu. Ini punya vibe unik sendiri yang bikin nagih.)


THINGS I DON'T LIKE 

■I assumed Kazu was a girl because of the cover, and his name is also gender-neutral. Nothing in the beginning clearly says he’s a boy, so I didn’t realize it until someone mentioned he was Mr. Genji’s grandson. The only part that didn’t fit was a weird scene where Kazu peed from his window which obviously wouldn’t make sense for a girl.  

■Kazu’s uncle is basically there just to explain everything about Akari and the neighborhood’s history. He’s always online and somehow replies to Kazu’s emails super fast, even though he lives in China. It’s convenient, but it makes him feel less like a real person and more like a shortcut for the story to give answers.  

■There’s a short story included in this book, and while it’s interesting, it feels way too long. It’s placed right in the middle of an exciting part of the main plot, which made it feel like a distraction.

■This book explains that people can come back to life and that their existence gets rewritten into the world, but it doesn’t fully explain how it all works. Some rules are hinted at, but a lot is left vague, which made it hard to completely understand. 

■After slowly building up the mystery, the ending happens too fast. A key character suddenly makes a big decision without enough setup, so it feels out of nowhere. The Moon is on the Left gets so much attention, while the actual main story wraps up too quickly.

(■Awalnya aku kira Kazu itu perempuan karena melihat sampul bukunya, dan namanya juga netral, bukan spesifik nama laki-laki atau perempuan. Di awal-awal cerita juga tidak ada yang menunjukkan kalau dia laki-laki, jadi aku baru sadar saat ada yang bilang dia itu cucu laki-lakinya Pak Genji. Satu-satunya bagian yang kurang nyambung kalau Kazu perempuan adalah adegan aneh di mana dia pipis dari jendela, yang jelas-jelas nggak mungkin dilakukan anak perempuan.  

■Omnya Kazu terasa seperti tokoh yang cuma ada untuk menjelaskan semua hal tentang Akari dan sejarah lingkungan mereka. Dia selalu online dan somehow bisa membalas email Kazu dengan sangat cepat, padahal tinggal di Cina. Memang sih ini bikin ceritanya lebih gampang, tapi jadinya omnya Kazu terasa kurang seperti orang beneran dan lebih seperti alat untuk memberikan jawaban ke Kazu.  

■Di buku ini ada cerita pendek yang diselipkan, dan meskipun menarik, rasanya agak kepanjangan. Cerita ini muncul pas lagi seru-serunya di alur utama, jadi malah terasa mengganggu.  

■Buku ini memang menjelaskan bahwa orang bisa hidup lagi dan keberadaan mereka bakal disesuaikan ulang ke dunia, tapi nggak memberikan penjelasan lengkap gimana cara kerjanya. Ada beberapa aturan yang dijelaskan, tapi banyak juga yang dibiarkan samar-samar, jadi bikin agak bingung buat mengerti sepenuhnya.  

■Setelah misterinya dibangun pelan-pelan, endingnya malah terlalu cepat. Ada karakter kunci yang tiba-tiba bikin keputusan besar tanpa ada persiapan yang cukup, jadi rasanya kayak tiba-tiba. Cerita The Moon is on the Left mendapat banyak perhatian, sementara alur utamanya malah selesai terlalu cepat.)


CONCLUSION 

Temple Alley Summer is a quiet but interesting mystery that explores forgotten stories, the importance of kindness, and what it really means to exist. Kazu’s journey to uncover the truth makes us think about the stories we believe and the voices that get lost over time. This book’s eerie atmosphere and emotional aspects make it unique, but some things like the unclear magic system, the too long short story, and the rushed ending, all left me with questions. Still, its message about kindness and curiosity makes it a worthwhile read, especially if you like mysteries with a supernatural element.

(Temple Alley Summer adalah cerita misteri yang tenang tapi menarik, yang mengulik soal cerita-cerita yang terlupakan, pentingnya kebaikan, dan apa artinya benar-benar ada. Perjalanan Kazu untuk mengungkap kebenaran membuat kita berpikir tentang cerita-cerita yang kita percaya dan suara-suara yang hilang seiring waktu. Vibenya yang agak seram dan sisi emosionalnya membuat buku ini unik, tapi beberapa hal seperti magic system yang kurang jelas, cerita pendek yang kepanjangan, dan ending yang terlalu buru-buru, membuat aku masih penasaran. Tapi, pesannya soal kebaikan dan rasa penasaran membuat buku ini tetep worth it untuk dibaca, apalagi untuk yang suka misteri dengan sentuhan supernatural.)

0 Comments

don't use this comment form, use the embedded disqus comment section. No spam!

Note: only a member of this blog may post a comment.