Totto-chan: The Little Girl at the Window by Tetsuko Kuroyanagi | Book Review
Have you ever read a book that made you wish your school was completely different? That’s exactly how I felt when I first read Totto-chan: The Little Girl at the Window in 8th grade. A friend brought it to school and asked me and a few others to read it together. We took turns borrowing it, and when we were all done, we couldn’t stop talking about it. We cried over Yasuaki-chan, felt heartbroken when Tomoe Gakuen was lost, and dreamed about how amazing it would be if our school was as fun and free as Totto-chan’s.
This book is based on the childhood of Tetsuko Kuroyanagi, who was an energetic and curious girl that got expelled from her first school for being too "troublesome." But instead of being forced to fit in, she was lucky enough to find Tomoe Gakuen, a one-of-a-kind school run by the kind and open-minded headmaster, Sosaku Kobayashi. At Tomoe, Totto-chan and her classmates experience a completely different way of learning, one that values creativity, exploration, and individuality. But as World War II looms, their joyful school life is cut short, which makes this story even more emotional.
I’ve reread this book several times since then, and every time, I discover something new. It’s one of those books that grows with you and makes you see things differently as you get older.
(Pernah nggak sih baca buku yang bikin kamu berandai-andai, "Ah, kalau sekolahku kayak gini, pasti seru banget!"? Nah, itu yang aku rasakan saat pertama kali membaca Totto-chan: The Little Girl at the Window waktu kelas 8. Waktu itu, temanku membawa buku ini ke sekolah dan mengajak aku dan beberapa teman lain untuk baca bareng. Kita gantian pinjam bukunya, dan setelah selesai baca, jadi nggak berhenti ngobrolinnya. Kita nangis waktu baca bagian Yasuaki-chan, sedih banget pas Tomoe Gakuen harus tutup, dan terus mikir, "Keren banget ya kalau sekolah kita kayak sekolahnya Totto-chan, bebas dan seru gitu."
Buku ini sebenarnya based on kisah masa kecil Tetsuko Kuroyanagi, yang waktu kecilnya super aktif dan punya rasa penasaran yang tinggi sampai dia dikeluarkan dari sekolah pertamanya karena dianggap "terlalu merepotkan." Tapi, beruntung, dia malah dipertemukan dengan Tomoe Gakuen, sekolah unik yang dipimpin oleh kepala sekolah yang super baik dan open-minded, Sosaku Kobayashi. Di Tomoe, Totto-chan dan teman-temannya belajar dengan cara yang jauh berbeda yang lebih menghargai kreativitas, eksplorasi, dan individualitas setiap anak. Tapi, cerita bahagia mereka harus terputus karena Perang Dunia II, yang membuat ceritanya jadi semakin emosional.
Sejak pertama baca, aku sudah membaca ulang buku ini beberapa kali, dan setiap kali membacanya, selalu ada hal baru yang aku temukan. Ini adalah salah satu buku yang seperti tumbuh bersama kita, dan membuat kita melihat banyak hal dengan cara yang berbeda seiring kita bertambah dewasa.)
BOOK REVIEW
Totto-chan is the kind of kid who’s full of energy, always asking questions, and constantly curious about the world. But instead of seeing this as a good thing, her first school considers her "troublesome" and expels her. Even now, a lot of kids who don’t fit into the usual mold are misunderstood because schools often expect students to sit still, follow rules, and not question things too much. But the truth is, curiosity isn’t a bad thing, because it’s how kids learn and grow. This book makes an important point that instead of shutting kids down for being different, we should create an environment where they can thrive.
That’s exactly what happens when Totto-chan transfers to Tomoe Gakuen. Unlike her old school, Tomoe is built around the idea that learning should be fun and personal. The headmaster, Sosaku Kobayashi, is the kind of teacher every student wishes they had, someone who actually listens, understands, and believes in his students. At Tomoe, kids don’t just memorize facts from textbooks. They learn through real experiences, whether it’s farming, playing music, or exploring nature. The school lets them choose their own subjects, by giving them the freedom to figure out what excites them. Even now, so many schools struggle to accommodate different learning styles, which makes me think: wouldn’t education be so much better if more places followed Tomoe’s approach?
But this book isn’t just about school, it’s also about kindness. One of the most touching moments for me was when the headmaster tells Totto-chan, "You’re a good child." After being labeled as a troublemaker for so long, those simple words mean everything to her. It made me realize how powerful encouragement can be. This book also explores important issues like disability and inclusion through Totto-chan’s friendship with Yasuaki-chan. Their bond is so pure and heartwarming, but his passing is heartbreaking. It shows how some things in life aren’t fair, but kindness and understanding can make all the difference.
Sosaku Kobayashi is the kind of teacher every kid deserves, someone who actually listens, understands, and believes in their potential instead of just enforcing rules. Unlike traditional teachers who focus on discipline and test scores, he sees each student as unique and valuable. His approach completely changes Totto-chan’s life, helping her grow into a confident and kind person. Even now, I think his philosophy is something we can learn from. Education shouldn’t just be about memorizing facts or following strict routines, it should encourage curiosity, creativity, and self-worth.
But this book is also about the simple joys of childhood. The little moments like eating lunch with friends, climbing trees, learning through real experiences, make this story feel warm and nostalgic. Reading it made me think about how fast life moves now, with endless digital distractions. This book is a reminder to slow down and appreciate the small things, like sharing a meal with loved ones or enjoying nature. It perfectly captures the innocence and wonder of childhood, something I think many of us wish we could hold onto a little longer.
Even though most of this book is filled with happiness, there’s a quiet sadness that builds up, especially toward the end. World War II is always in the background, and eventually, Tomoe Gakuen is destroyed. It's really heartbreaking to see such a special place disappear because of war. It’s a reminder that even the best things in life aren’t immune to destruction. And the sad thing is, this isn’t just history. Even today, there are kids who lose their schools, homes, and education because of war. It made me appreciate how precious peace is and how important it is to protect places where children can learn and grow freely.
(Totto-chan adalah tipe anak yang super energik, selalu penasaran, dan terus-terusan bertanya ini itu. Tapi bukannya melihat keadaan ini sebagai hal yang positif, sekolah pertamanya malah menganggap dia "merepotkan" sampai akhirnya dia dikeluarkan. Sampai sekarang masih banyak anak-anak yang tidak bisa masuk ke dalam kategori yang biasa digunakan sekolah-sekolah pada umumnya, kemudian para guru akhirnya salah paham, karena sekolah hanya ingin murid-muridnya duduk diam, menaati aturan, dan tidak banyak bertanya. Padahal, rasa penasaran itu bukanlah hal buruk. Justru itulah cara anak-anak untuk belajar dan berkembang. Buku ini memberikan pesan penting bahwa daripada membatasi anak-anak karena mereka berbeda, kita harusnya menciptakan lingkungan di mana mereka bisa berkembang.
Nah, itu yang terjadi saat Totto-chan pindah ke Tomoe Gakuen. Berbeda dengan sekolah lamanya, Tomoe dibangun dengan konsep bahwa belajar itu harusnya menyenangkan dan personal. Kepala sekolahnya, Sosaku Kobayashi, adalah tipe guru yang pasti diidam-idamin semua murid. Dia benar-benar mendengarkan, memahami, dan percaya pada murid-muridnya. Di Tomoe, anak-anak tidak hanya menghafal isi buku pelajaran. Mereka belajar lewat pengalaman langsung, entah itu bercocok tanam, bermain musik, atau menjelajah alam. Sekolahnya memberi kebebasan agar mereka memilih pelajaran sendiri, supaya mereka bisa menemukan hal yang membuat mereka bersemangat. Sampai sekarang, masih banyak sekolah yang kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan gaya belajar yang berbeda-beda ini. Jadi, aku mikir, pasti keren banget ya kalau lebih banyak sekolah yang mengikuti cara Tomoe.
Tapi, buku ini bukan cuma tentang sekolah, lho. Ini juga tentang kebaikan. Salah satu momen yang paling bikin aku terharu adalah ketika kepala sekolah bilang ke Totto-chan, "Kamu ini anak yang baik." Setelah sekian lama dicap sebagai anak nakal, kata-kata sederhana itu berarti banget buat Totto-chan. Itu bikin aku sadar betapa besarnya kekuatan dukungan dan apresiasi. Buku ini juga mengangkat isu-isu penting seperti disabilitas dan inklusi lewat persahabatan Totto-chan dan Yasuaki-chan. Ikatan mereka benar-benar tulus dan mengharukan, tapi kepergian Yasuaki-chan bikin sedih banget. Itu nunjukin bahwa hidup memang nggak selalu adil, tapi kebaikan dan pengertian bisa membuat segalanya jadi lebih baik.
Sosaku Kobayashi adalah tipe guru yang seharusnya dimiliki setiap anak. Dia benar-benar mendengar, memahami, dan percaya pada potensi murid-muridnya, bukan cuma menjalankan aturan saja. Berbeda dengan guru-guru tradisional yang berfokus pada disiplin dan nilai ujian, dia melihat setiap murid sebagai individu yang unik dan berharga. Cara dia mengajar benar-benar mengubah hidup Totto-chan, dan membantu dia tumbuh menjadi orang yang percaya diri dan baik hati. Sampai sekarang, aku masih mikir filosofi beliau adalah sesuatu yang bisa kita pelajari dan terapkan. Pendidikan bukan hanya soal menghafal fakta atau mengikuti rutinitas ketat, tapi seharusnya bisa mendorong rasa penasaran, kreativitas, dan kepercayaan diri.
Buku ini juga menangkap kesenangan-kesenangan sederhana di masa kecil. Momen-momen seperti makan siang bersama teman, memanjat pohon, atau belajar lewat pengalaman langsung membuat ceritanya terasa hangat dan nostalgik. Saat membaca buku ini, aku jadi berpikir betapa cepatnya hidup sekarang, di mana kita dikelilingi oleh distraksi digital yang tidak ada habisnya. Buku ini mengingatkan kita untuk berhenti sejenak dan menghargai hal-hal kecil, seperti makan bersama orang terdekat atau menikmati alam. Buku ini benar-benar menangkap kepolosan dan keajaiban masa kecil, yaitu sesuatu yang kayaknya banyak dari kita ingin bisa bertahan lebih lama.
Meskipun sebagian besar buku ini dipenuhi kebahagiaan, ada juga kesedihan yang pelan-pelan muncul, apalagi di bagian akhir. Perang Dunia II selalu jadi latar belakang cerita, dan pada akhirnya, Tomoe Gakuen hancur. Sedih banget melihat tempat yang begitu spesial hilang karena perang. Ini mengingatkan kita bahwa bahkan hal-hal terbaik dalam hidup pun tidak kebal dari kehancuran. Dan yang membuat sedih, ini bukan cuma ada di sejarah. Sampai sekarang, masih banyak anak-anak yang kehilangan sekolah, rumah, dan pendidikan karena perang. Ini membuat aku makin menghargai betapa berharganya perdamaian dan pentingnya melindungi tempat-tempat di mana anak-anak bisa belajar dan tumbuh dengan bebas.)
THINGS I LOVE
■This book feels like a warm hug. It perfectly captures the innocence of childhood, the curiosity, the excitement, and the small joys that made growing up special. I first read this book with my friends in 8th grade, and we all got so emotional over it. We cried together, talked about how much we loved it, and wished our school could be as fun as Tomoe Gakuen. That memory alone makes this book so special to me.
■The writing is super easy to follow, so it’s perfect for all kinds of readers. But don’t let the simple style fool you, there’s so much depth in the emotions and themes. When I first read it as a kid, I enjoyed the story, but as I got older, I started noticing the deeper messages hidden within it. There’s always something new to take away from it, no matter how many times you read it.
■Totto-chan is such a fun and lovable character. She’s full of energy, always curious, and has a way of looking at the world that makes us smile. It’s so easy to connect with her, especially if you were the kind of kid who asked a lot of questions or had a hard time sitting still in class. And then there’s the headmaster, Sosaku Kobayashi, he’s the kind of teacher everyone wishes they had. His kindness, patience, and belief in every child make him such an inspiring figure.
■One of my favorite things about this book is how it challenges the idea of what school should be. Instead of forcing kids to follow strict rules, Tomoe Gakuen focuses on encouragement, patience, and letting kids be themselves. It made me think about how education should be more than just grades and exams, because it should be about helping kids grow, learn, and discover what makes them special.
■Tomoe Gakuen is honestly such a dream school. The way it encourages hands-on learning, lets kids explore their interests, and makes education feel like an adventure is so refreshing. Even now, it feels ahead of its time. It made me wish more schools would take this kind of approach instead of just focusing on memorization and discipline.
■Even though war isn’t the main focus of this story, it’s always there in the background, creeping closer and closer. And when it finally takes away Tomoe Gakuen, it’s heartbreaking. The way it happens so quietly in this book makes it more sad, it’s a reminder of how war can destroy even the most beautiful and hopeful places.
■Even though Totto-chan’s story happened decades ago, everything it talks about like kindness, curiosity, individuality, and the importance of understanding children, still matters today. This book makes us think about how we treat kids, how we teach them, and how important it is to appreciate the little joys in life. No matter how old you are, there’s something in this book you can bring with you.
(■Buku ini rasanya kayak sebuah pelukan hangat. Benar-benar menunjukkan kepolosan masa kanak-kanak, rasa penasaran, kegembiraan, dan hal-hal kecil yang membuat fase bertumbuh jadi anak-anak itu spesial. Awalnya aku baca buku ini bareng temen-temen pas kelas 8, dan kita semua sampai emosional banget. Kita nangis bareng, ngobrolin betapa kita suka banget sama bukunya, dan berandai-andai kalau sekolah kita bisa seseru Tomoe Gakuen. Kenangan itu aja sudah membuat buku ini jadi spesial banget buat aku.
■Tulisannya simpel dan gampang diikuti, jadi cocok untuk semua jenis pembaca. Tapi jangan salah, di balik gaya bahasanya yang sederhana, ada banyak sekali aspek emosional yang dalam dan pesan-pesan yang tersembunyi. Saat pertama kali baca waktu masih kecil, aku cuma menikmati ceritanya, tapi semakin tua, aku mulai menyadari pesan-pesan yang lebih dalam. Setiap kali membaca, selalu ada hal baru yang bisa diambil, tidak peduli berapa kali kamu sudah baca buku ini.
■Totto-chan adalah karakter yang seru dan menggemaskan. Dia penuh energi, selalu penasaran, dan punya cara pandang yang bikin kita senyum-senyum sendiri. Gampang banget relate sama dia, apalagi kalau kamu dulu tipe anak yang banyak bertanya atau susah duduk diam di kelas. Terus ada kepala sekolahnya, Sosaku Kobayashi, dia adalah guru yang pasti diidam-idamkan semua orang. Kebaikan, kesabaran, dan kepercayaannya pada setiap anak membuat dia menjadi sosok yang sangat menginspirasi.
■Salah satu hal favorit aku dari buku ini adalah caranya menantang pemikiran tentang gimana seharusnya sekolah itu. Bukannya memaksa anak-anak mengikuti aturan yang kaku, Tomoe Gakuen berfokus pada motivasi, kesabaran, dan membiarkan anak-anak jadi diri mereka sendiri. Ini bikin aku mikir, pendidikan harusnya lebih dari sekadar nilai dan ujian, karena intinya adalah untuk membantu anak-anak tumbuh, belajar, dan menemukan hal yang membuat mereka spesial.
■Tomoe Gakuen adalah sekolah impian kita semua. Cara mereka mengajarkan pelajaran lewat pengalaman langsung, memberikan kebebasan untuk anak-anak menjelajahi minat mereka, dan membuat sekolah terasa seperti petualangan itu terasa menyegarkan. Sampai sekarang, rasanya konsep mereka masih lebih maju dari zamannya. Ini bikin aku berharap lebih banyak sekolah yang mengambil pendekatan seperti ini, bukan hanya berfokus pada hafalan dan disiplin saja.
■Meskipun perang bukan fokus utama cerita ini, tapi kehadirannya selalu terasa di latar belakang, dan pelan-pelan mendekat. Dan saat akhirnya Tomoe Gakuen harus hilang karena perang, rasanya sedih banget. Kejadiannya yang begitu sederhana di buku ini malah membuatnya lebih mengharukan. Ini mengingatkan kita bahwa perang bisa menghancurkan bahkan tempat-tempat yang paling indah dan penuh harapan sekalipun.
■Meskipun cerita Totto-chan terjadi puluhan tahun yang lalu, semua yang dibahas di buku ini seperti kebaikan, rasa penasaran, individualitas, dan pentingnya memahami anak-anak, masih relevan sampai sekarang. Buku ini membuat kita berpikir tentang cara kita memperlakukan anak-anak, cara kita mengajar mereka, dan betapa pentingnya menghargai hal-hal kecil dalam hidup. Tidak peduli berapa pun umur kamu, pasti ada sesuatu dari buku ini yang bisa kamu bawa terus sepanjang hidup.)
CONCLUSION
Totto-chan: The Little Girl at the Window isn’t just a childhood memoir, because it’s also a story about education, individuality, and kindness. Through Totto-chan’s experiences, this book shows how important it is to let kids be curious instead of shutting them down, to create schools that encourage creativity, and to appreciate the little joys in life. Even though this story feels warm and nostalgic, there’s also a deeper message about war and how it can take away even the most beautiful things. That’s what makes this book timeless, no matter when you read it, its lessons still matter. I’ve reread it multiple times, and every time, I notice something new. It’s one of those books that grows with you, and leaves a lasting impression whether you read it as a kid, a parent, or even a teacher.
(Totto-chan: The Little Girl at the Window bukan hanya sekadar memoar masa kecil saja, karena ini juga cerita tentang pendidikan, individualitas, dan kebaikan. Lewat pengalaman Totto-chan, buku ini menunjukkan betapa pentingnya membiarkan anak-anak penasaran alih-alih membatasi mereka, menciptakan sekolah yang mendorong kreativitas, dan menghargai hal-hal kecil dalam hidup. Meskipun ceritanya terasa hangat dan nostalgik, ada juga pesan yang lebih dalam tentang perang dan bagaimana perang bisa merebut bahkan hal-hal yang paling indah sekalipun. Itu yang bikin buku ini timeless, karena nggak peduli kapan kita membacanya, pesannya tetap relevan. Aku sudah membaca buku ini beberapa kali, dan setiap kali, selalu ada hal baru yang aku sadari. Ini adalah salah satu buku yang tumbuh bersama kita, dan meninggalkan kesan yang dalam, entah kamu membacanya sebagai masih kecil, sebagai orang tua, atau bahkan sebagai guru.)
0 Comments
don't use this comment form, use the embedded disqus comment section. No spam!
Note: only a member of this blog may post a comment.